JalinJanji.com
Media relationship terkemuka di Indonesia.
Pernahkah terlintas pertanyaan mengapa dalam setiap pernikahan dibicarakan mengenai mahar dan mas kawin? Apa sebenarnya perbedaan di antara keduanya yang sering kali membuat bingung?
Artikel ini siap menjawab rasa penasaran tersebut dengan penjelasan yang mendalam dan informatif. Dengan mengambil rujukan dari beberapa sumber terpercaya, diharapkan pemahaman tentang kedua istilah ini bisa lebih jelas.
Tidak perlu berlama-lama, mari lanjutkan membaca untuk menemukan perbedaan mahar dan mas kawin, serta beberapa contoh yang sering ditemui dalam praktek pernikahan khususnya menurut ajaran Islam. Siapkan catatan, karena informasi yang akan dihadirkan bisa menjadi referensi penting bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan!
Isi Artikel:
Mahar, yang dalam bahasa Arab disebut juga dengan “mahr” atau “sadaq”, adalah harta yang wajib diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita. Dalam Islam, mahar bukan hanya simbol, tapi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebagai salah satu rukun nikah. Rukun ini begitu penting sehingga tanpa adanya mahar, pernikahan dianggap tidak sah.
Menurut beberapa narasumber, nilai mahar tidak ditentukan oleh norma atau adat tertentu, melainkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Mahar bisa berupa uang, barang, atau bahkan layanan. Misalnya, ada yang memilih mahar berupa emas, seperangkat alat sholat, atau bahkan pendidikan.
Hal ini menunjukkan bahwa mahar memiliki fleksibilitas yang luas tergantung pada kesepakatan dan kondisi kedua belah pihak.
Sementara itu, mas kawin atau yang lebih dikenal dengan “dowry” adalah harta yang secara tradisional diberikan kepada pengantin pria oleh keluarga pengantin wanita. Ini lebih banyak ditemukan dalam kebudayaan Hindu dan beberapa kebudayaan lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia di beberapa daerah tertentu.
Berbeda dengan mahar, mas kawin merupakan lebih kepada tradisi dan bukan sebuah kewajiban agama. Praktek ini biasanya dimaksudkan sebagai bentuk dukungan kepada pengantin baru untuk memulai hidup mereka, sering kali dalam bentuk perabotan rumah tangga, uang, atau aset lainnya.
Meski tradisi ini masih bertahan, banyak diskusi modern yang mengkritik praktik mas kawin karena berbagai implikasi sosial dan ekonomi yang terkadang membawa dampak negatif.
Dalam konteks pernikahan Islami, pemahaman tentang mahar dan mas kawin perlu dibedakan secara jelas untuk menghindari kekeliruan dalam praktik yang dilaksanakan.
Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai kedua konsep ini menurut perspektif Islam, dilansir dari berbagai sumber termasuk NU Online.
Mahar dalam Islam bukan sekadar tradisi atau simbol, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi untuk sahnya sebuah pernikahan. Hal ini jelas diatur dalam Al-Quran dan Hadist, dimana setiap pernikahan harus melibatkan pemberian mahar dari pihak pria kepada pihak wanita.
Besaran atau bentuk mahar ini tidak ditetapkan secara spesifik dalam syariat, memberikan keleluasaan kepada kedua belah pihak untuk menentukan sesuai dengan kemampuan dan kesepakatan bersama.
Di Indonesia, praktik pemberian mahar ini sering kali berupa uang, emas, atau barang berharga lainnya. Namun, tidak jarang mahar juga bisa dalam bentuk yang lebih simbolis, seperti menghafal surat tertentu dari Al-Quran.
Pemilihan jenis mahar ini seringkali mencerminkan nilai-nilai spiritual dan komitmen agama kedua belah pihak, serta menjadi cerminan dari kultur lokal yang kaya.
Meskipun konsep mas kawin atau dowry lebih banyak dikenal dalam tradisi Hindu dan kebudayaan di Asia Selatan, di beberapa daerah di Indonesia istilah ini sering digunakan bergantian dengan mahar.
Namun, menurut pandangan Islam, mas kawin tidak memiliki pondasi syariat yang kuat. Mas kawin lebih merupakan bentuk dukungan materiil yang diberikan oleh keluarga pengantin wanita kepada pengantin pria atau kepada pasangan baru, seringkali dalam bentuk harta benda atau uang yang bertujuan untuk membantu mereka memulai kehidupan bersama.
Dalam beberapa masyarakat, praktik ini dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan ekonomi keluarga pengantin wanita dan sebagai jaminan bagi kesejahteraan putri mereka.
Namun, praktek ini seringkali menimbulkan kontroversi dan kritik, terutama ketika dikaitkan dengan beban ekonomi yang harus dipikul oleh keluarga pengantin wanita dan potensi ketidakadilan yang bisa timbul akibat praktik ini.
Dalam mendalami perbedaan mahar dan mas kawin, penting untuk memperhatikan contoh konkret dari kedua praktek ini. Melalui contoh-contoh ini, kita dapat memahami bagaimana kedua konsep ini diaplikasikan dalam berbagai konteks pernikahan, khususnya di Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya dan agama.
Mahar dalam pernikahan Islam memiliki variasi yang luas berdasarkan apa yang dianggap berharga oleh kedua belah pihak dan keluarga mereka. Berikut adalah beberapa contoh nyata dari mahar yang sering diberikan dalam pernikahan:
Mas Kawin, di sisi lain, cenderung lebih beragam dan terkait erat dengan adat atau tradisi lokal. Berikut adalah beberapa contoh dari mas kawin:
Setiap praktik memiliki nuansa dan keunikannya sendiri, menunjukkan betapa kaya dan variatifnya budaya pernikahan di berbagai daerah. Pemahaman mendalam tentang mahar dan mas kawin tidak hanya memperkaya pengetahuan tetapi juga membantu mempersiapkan pernikahan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya.
Dengan informasi yang telah disajikan, diharapkan bisa memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perbedaan mahar dan mas kawin. Berbagilah pengetahuan ini dengan yang lain, agar semakin banyak yang memahami nuansa penting dalam tradisi pernikahan kita.